Hello people, comeback to my blog. Topik kali ini agak serius,ya. Entah kenapa
akhir-akhir ini gue merasa kehilangan sesuatu dari diri gue sendiri, kayak
semacam sesuatu yang dapat menggugah diri gue. Minggu ini gue juga malas buat
belajar karena stress mikirin foto album dan lainnya. Lalu gue bikin tulisan ini karena ketika gue
stress, gue merasa perlu meluangkan waktu buat ngelakuin hal-hal yang gue suka.
Seperti sekarang, gue secara spontan nulis apa yang gue pikirin.
Last week,
ada agenda pembagian rapor tengah semester. Dan ya, ini adalah salah satu yang
membuat gue merasa gimana gitu, maybe.
Nilai gue juga nggak bagus-bagus amat dan nggak jelek-jelek amat juga, aduh
ngomong apa sih gue.
But, there was one friend of mine who was a rival in
middle school and until now in high school. Of course, this time it’s gonna be
her best.Maybe this is what made me feel like I failed.
Dibanding
menilai apa yang gue lakukan, gue malah berpikir kalau this test is very difficult. Gue mencari-cari alasan buat membuat
diri gue sendiri puas padahal all this
happened because my mistake. Gue merasa nggak perlu menilai diri gue
sendiri, until I do it.
When I saw my value, I think that it is bad value. Lalu ada salah satu teman gue yang mendapat nilai
tertinggi di kelas. Padahal ketika kertas jawabannya dibenerin, nilainya bahkan
nggak memenuhin standar. Tentu aja nggak dia doang, bahkan hampir satu kelas
mendapat nilai di bawah standar. Lalu yang gue heran dong, ketika temen satu
kelas hampir semuanya dapat nilai pas standar, dia mendapat nilai tertinggi.
Dan
gue lagi-lagi bukannya memikirkan apa yang salah pada diri gue sendiri, tapi
gue malah lebih tertarik ke topik itu sehingga gue terkesan nggak menerima
hasil yang gue dapat.
Then my friend said,”Be Thankful”. Yes, he is boy if
you want to know. Tentu aja
seketika gue berpikir kalau seharusnya gue nggak gitu. Seharusnya gue bersyukur
dengan nilai gue. Seharusnya gue menilai apa yang salah dari diri gue sendiri
daripada menilai kesuksesan yang temen gue capai.
And
then, gue sadar kalau gue emang nggak
kompetent waktu tes. Biasanya dua minggu sebelum ujian, gue nyiapin semua
rangkuman, lalu satu minggu sebelum tes gue belajar bermacam-macam tipe soal
yang mungkin mau keluar. Sehingga hari H gue cuma baca ringkasan itu doang.
Tapi,
apa yang gue lakukan saat tes kali ini? Dua hari sebelum ujian gue baru bikin
ringkasan. Gue bahkan nggak sempet buat belajar soal-soal yang mungkin keluar.
Lalu pas hari H gue bahkan tidur jam satu malam lalu bangun jam 4 pagi . Gue
ngelakuin sistem kebut semalam yang menurut gue emang nggak efektif. Tapi
dengan bodohnya gue tetep ngelakuin itu. Dan kalian bisa tebak gimana hasil
ujian gue dong, nggak ada yang sempurna. Bahkan waktu tes gue juga pernah
ketiduran gara-gara saking ngantuknya.
Dan
hal itu bikin gue sadar kalau gue melakukan usaha dengan setengah-setengah,
lalu kenapa gue harus minta lebih? Ya gue seharusnya mau dong buat nerima itu
karena usaha gue juga nggak seberapa?
Ternyata
gue nggak perlu mendapat sesuatu yang terbaik untuk meraih kesuksesan. Gue
seharusnya hanya butuh rasa syukur dari semua pencapaian yang telah gue buat
sehingga hal itu bisa jadi arti kesuksesan tersendiri buat gue.
Komentar
Posting Komentar