Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Bahagia dengan “CUKUP”

Dalam KBBI, Cukup berarti dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan. Seringkali seseorang terjebak dalam kata cukup, beberapa orang malah menyalahartikannya secara tidak langsung. Bayangkan ketika kalian mempunyai sebuah baju dalam jumlah yang katakanlah lima. Maka itu bisa di katakan ‘cukup’ karena mereka-baju-telah memenuhi kebutuhan kita. Tapi, apa yang terjadi sebenarnya? Kita tidak bisa sembunyi di balik kata cukup. Seringkali kita sebagai manusia ingin memiliki sesuatu yang orang lain punya. Ketika kita melihat teman datang ke pesta dengan memakai mobil terbaru, kita ingin ikut membelinya. Ketika teman kita bisa berbelanja ke mall setiap minggu, kita juga ingin berada di posisinya. Berbeda dengan apa yang kita lihat di lain sisi. Ada beberapa orang yang tidak bisa makan sedangkan kita di rumah bisa makan walaupun dengan lauk yang seadanya. Beberapa orang tidak punya rumah untuk sekedar berlindung dari hujan. Sedangkan kita punya. Sudut pandang kita mempengaruhi ...

Hidup Bukan Keberuntungan

Gue nggak percaya ada keberuntungan di hidup ini. Sangat sederhana alasan gue nggak percaya itu. Because semuanya butuh kerja keras. Nggak ada sesuatu yang bisa kita raih dengan embel-embel ‘keberuntungan’.Ketika gue gagal, gue lebih suka menilai gue sebagai orang yang kurang berusaha keras daripada kurang beruntung. Seseorang pernah berkata seperti ini pada gue,”Orang pintar akan kalah sama orang beruntung” Hal ini terjadi beberapa hari yang lalu ketika gue akan mengikuti sebuah tes seleksi. Gue waktu itu belajar keras dan dia seakan mengatakan bahwa usaha belajar gue nggak akan berharga di banding keberuntungan itu. Gue agak merasa tersinggung. Mereka yang berani bilang seperti itu menurut gue adalah orang-orang yang nggak berani keluar dari zona nyaman. Mereka hanya berkedok dan bersembunyi di dalam kata “keberuntungan” ketika mereka gagal. Oke, mungkin beberapa orang ditakdirkan dengan keberuntungan. But , apa semua orang di takdirkan seperti itu? Tidak. Beberapa orang...

Selesai Untuk Memulai

Tulisan ini di dedikasikan untuk dirimu, Fitriani Terima kasih, Kamu sangat hebat. Mungkin sangat singkat dan terkesan biasa, but sudah mewakili semuanya. Usaha lo dan semuanya. Sekali lagi, gue nggak punya pembendaharaan kalimat yang panjang buat bilang “gue bangga sama lo”. Lo mungkin heran kenapa gue bilang ini. Yap, dua bulan hampir berlalu sejak lo selesai ujian. Dan sekarang, tepat 19 Mei 2019, lo udah berjuang untuk semuanya. Gue masih ingat gimana lo kecewa ketika nggak lolos dalam seleksi undangan. Gue tau waktu itu lo marah, kecewa, sedih, dan terpukul. Lo merasa nggak punya masa depan. Selama tiga hari lo stress dan selalu pengen marah. Untung aja dulu hari libur ya, haha. Oke, lanjut. Gue sebenernya cuma mau bilang kalau apa yang lo pikirkan dulu semuanya salah. Mungkin lo kecewa karena keberuntungan nggak berujung pada diri lo sedangkan lo udah merasa berusaha sekuat tenaga. Mungkin lo pernah bertanya “kenapa temen gue beruntung, sedangkan gue nggak? Gue tau...

Jangan Bertanya,”Sesuatu apa yang ingin kita raih?” Tapi ubahlah menjadi,”Rasa sakit apa yang ingin kita alami?”

Jika seseorang di berikan pertanyaan,”Sesuatu apa yang ingin kita raih?” Beberapa dari mereka mungkin akan menjawab,” saya ingin mobil keluaran terbaru, saya ingin rumah yang berada di kawasan elit, saya ingin punya pekerjaan yang layak dan uang yang banyak sehingga saya bisa jalan-jalan keluar negeri setiap minggu.” Dan segala keinginan mereka yang hampir sama yaitu ingin berada di atas dari yang lain. Dari sana, Anda bisa menilai, setiap orang ingin mempunyai sesuatu yang di raih. Jawabannnya hampir serupa dengan semua orang. Semuanya ingin bahagia, tentu saja. Tidak ada yang ingin menderita di dunia ini. Lalu ketika mereka di beri pertanyaan yang berbeda,”Rasa sakit apa yang ingin kita rasakan?” Beberapa orang mungkin secara langsung akan memberikan penolakan, entah dalam bentuk gelengan kepala atau pergi begitu saja meninggalkan si penanya. Mereka tidak ingin merasakan rasa sakit. Karena mungkin saja di pikiran mereka hanya memikirkan bagaimana cara mereka meraih kebahagiaan....

Jangan Berusaha menjadi Lebih Baik

Sebuah buku Self Improvement yang terkenal dan best seller di Amerika Serikat membuat saya berpikir dalam segala hal. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodoh Amat , itu adalah judul yang sudah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan di Indonesia sendiri, buku ini terjual sangat laris. Penulisnya adalah salah satu dari sekian blogger yang saya suka. Mark Manson, itulah namanya. Ketika saya membaca blognya yang berbahasa Inggris ada banyak nilai hidup yang saya pelajari dari sana. Lalu kemarin saya membeli buku terjemahannya. Sangat bagus, pikir saya. Salah satu bagian yang saya suka adalah ketika dia bilang bahwa kita tidak perlu berusaha menjadi baik. Awalnya saya pikir ini sangat gila. Bagi prinsip saya menjadi lebih baik dan pemikirannya ternyata berbeda jauh dari saya. Bukannya saya mengatakan kalau pemikiran Mark sangat bodoh atau bagaimana. Kita hanya berbeda cara berpikir. Lalu ketika saya baca lebih jauh lagi, saya mulai meng’iya’kan apa yang dia pikirkan. Terkadang anda ...

Percayalah! Apa yang kita lakukan selalu di nilai

Saya punya sebuah cerita yang cukup menarik untuk saya bagikan kepada kalian. Sederhana, bahkan beberapa di buat sebagai meme yang beredar di internet. Ceritanya seperti ini, ada seorang ayah dan anak laki-lakinya berjalan sambil menuntun keledai. Di suatu pedesaan ada orang yang berkomentar,’ hei, lihat itu! Mereka sangat bodoh! Punya keledai tapi tidak di naiki’ Sang ayah lalu berpikir. Benar juga omongan orang itu. Dia akhirnya memutuskan untuk menyuruh anaknya menunggangi keledai tersebut. Kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka sampai lagi disebuah pemukiman, seseorang berkata,”jahat sekali anak itu, membiarkan ayahnya menuntun keledai mereka.” Sang ayah berpikir kembali. Dia akhirnnya memutuskan untuk menaiki keledai tersebut. Menggantikan anaknya. Ketika sampai di pemukiman lagi, seseorang berkata,”hei lihat! Orang tua itu tidak kasihan dengan anaknya. Lihatlah anaknya di suruh berjalan kaki sementara dia menaiki keledai itu.” Sang ayah bingung. Untuk terakhir kalinya di...