Halo, akhir tahun 2018
menjadi ajang buat diri gue ngehabisin waktu liburan semester. Selama hampir
dua minggu gue pergi kerumah nenek gue yang ada di Magelang. At least, seperti yang kalian tebak, gue
liburan di sana. Mulai dari keliling kota Magelang dan kota Yogyakarta.
Tapi, hal yang ingin
gue bahas kali ini bukan tentang kemana lliburan gue, karena tulisan tentang
travelling bakalan gue buat di post yang lain.
Jadi, ceritanya gue
pulang ke Magelang setelah puas keliling kota Yogyakarta. Nah, karena pas waktu
keliling kota Magelang sebelumnya gue selalu pake grab, kali ini gue naik bis
dan ketika udah sampe kota Magelang, naik angkutan kecil gitu.
Di angkutan itu, gue
duduk di depan dekat sopik. Ternyata yang nyopir adalah seorang bapak yang udah
tua. Awalnya ketika di jalan, kendaraan ini mengarah ke Barat jadi sialu kena
cahaya matahari waktu sore. Beneran silau, gue di sepanjang jalan selalu
nutupin mata pakai tangan. Sementara bapak ini bilang kalau kacamatanya
ketinggalan dan ya dia bilang lagi kalau semua pekerjaan emang membutuhkan
modal. Gue hanya tertawa karena bingung mau ngomong apa.
Lalu dia bilang,”Mbak,
orang kalau cari rezeki itu selalu salah doa.”
Gue agak tertarik sama
obrolan ini, tapi jujur aja dari awal sampai akhir obrolan hanya bapak ini yang
ngomong. Gue cuma dengerin.
Dia ngelanjutin,”Mereka
selalu bilang ‘Ya Allah berikan saya pekerjaan’. Nah ini yang salah, karena
ketika kita nyapu jalanan pun tanpa di gaji itu bisa di katakan pekerjaan. Dari
sini kita bisa lihat bahwa Allah mengabulkan doanya. Tapi sebenernya itu salah,
seharusnya kita bilang ‘Ya Allah saya akan menjemput rezeki’ dan itu terjadi
pada hidup saya Mbak.”
“Pagi hari saya bilang
‘Ya Allah, saya akan menjemput rezeki’ dan pada hari itu memang benar-benar
rezeki saya, mbak. Angkutan saya selalu ramai, banyak orang yang naik.”
“Lalu ada teman saya
yang kerja di Arab Saudi dia bilang kalau dia nyari pekerjaan terus dia di
kasih pekerjaan berupa mencuci piring (kayaknya, gue udah lupa). Singkat cerita
ketika dia meminta gaji karena sudah mencuci piring, dia tidak mendapat gaji
karena yang punya piring ini bilang ‘katanya kamu nyari pekerjaan, ini sudah
saya beri pekerjaan’. Dan akhirnya dia memang tidak di gaji, Mbak.”
Dari sini gue mikir, bener juga ternyata mayoritas orang memang
berdoa dengan cara itu. Nggak salah juga sih kalau dikatakan mereka dapat
pekerjaan tapi nggak dapat gaji. Lalu bapak ini ngomongin lagi tentang
keikhlasan. Gue masih tetep kayak awal, senyum doang tanpa mau ngomong karena gue
nggak tahu mau jawab apa.
“Allah itu Maha Baik
mbak, dia kasih semua makhluk rezeki yang tidak pernah habis. Intinya kalau
kita melakukan sesuatu kita harus ikhlas. Sedekah juga begitu mbak, kita tidak
boleh menghitung rezeki yang kita berikan kepada orang lain. Kalau mbak tahu,
saya pernah dapat penumpang yang tidak bayar. Bahkan dia juga tidak bilang
terima kasih. Terus ya mbak, saya berdoa kepada Allah kalau saya minta hari ini
setidaknya dapat 100 ribu. Lalu saya dapat telepon dari kenalan saya kalau dia
minta diantar ke suatu tempat. Waktu itu saya dapat uang 150 ribu, mbak. Bahkan
ketika saya hanya minta 100 ribu, Allah memberi saya hampir dua kali lipat dari
yang saya inginkan.”
“Saya bukannya mau
sombong, mbak. Tapi ini benar terjadi. Saya pernah keliling cari penumpang.
Terus di pinggir jalan ada orang yang minta-minta (kayaknya kalau nggak salah buat nyumbang bencana). Waktu itu saya
hanya punya uang 5000 ribu saja mbak, yaudah saya kasih, masalah nanti makan
apa, di pikir belakangan (btw, waktu itu
penumpang bapak ini lagi sepi). Ini mbak percaya atau tidak, setelah itu
penumpang ramai sekali mbak, angkutan saya selalu penuh. Itulah rezeki dari
Allah mbak, kita mau punya uang sedikit atau banyak, kalau ada orang yang minta
bantuan, kita harus memberi karena kita tidak akan tahu Allah membalas kita
seperti apa. Intinya ikhlas saja.”
“Ini ada lagi mbak,
waktu saya tidak punya uang, ada orang buta yang ingin menyebrang jalan. Saya
turun sejenak dari angkutan dan membantu dia menyebrang. Lalu hal sama terjadi
lagi mbak, penumpang saya ramai sekali. Jadi begitu mbak, kalau saya tidak
punya uang ya saya melakukan hal-hal lain yang tidak membutuhkan uang,
contohnya menolong orang buta tadi mbak.”
Waktu itu gue merasa
bahwa Allah benar-benar Maha Baik, sekaligus gue merasa disadarkan setelah
terpukul oleh cerita bapak ini. Seolah Allah ingin menunjukkan kasih sayangnya
dan tegurannya bagi gue melalui bapak ini. Kenapa gue bilang gitu?
Because,
dua hari selama gue tour keliling Magelang dan Yogyakarta, gue meninggalkan
kewajiban gue sebagai seorang muslim. Gue ngelanggar salah satu rukun islam
karena gue selalu sampai rumah ketika maghrib dan saat pergi, kita perginya
dadakan jadi nggak ada persiapan. Kita nggak bawa mukena juga. Serius ini
penyesalan gue selama dua hari itu.
Dan lagi gue merasa
seperti orang yang pelit. Karena setiap ada pengamen di bis, gue nggak pernah
ngasih karena gue mikir gini ‘udah ada ibu juga yang ngasih’ dan ya gue
akhirnya nggak jadi ngasih padahal waktu itu gue udah persiapin uang recehan
banyak di tas. Tapi gue nggak jadi ngasih tuh uang.
Jadi, itu aja cerita
dari gue, see you.
Komentar
Posting Komentar