Delapan belas tahun adalah waktu yang cukup untuk
membentuk diri gue yang seperti sekarang. Gue selalu memikirkan, apa sih tujuan
terbesar dalam hidup gue sebenernya? Kenapa gue harus ngelakuin hidup yang
menurut gue membosankan ini. Kenapa kita harus bersusah-susah untuk mendapatkan
sesuatu yang sebenernya bukan milik kita juga. Perlu bukti? Kalian kalo
meninggal nggak akan ada barang-barang duniawi yang akan kalian bawa. Hal itu
cukup membuktikan ke diri gue sendiri, kalo kita di sini—alam dunia—nggak punya apa-apa buat di jadiin jaminan. But, kecuali iman dan taqwa.
Lalu beberapa bulan terakhir ini, gue seperti merasa...lelah, mungkin?
Sebagian diri gue menolak untuk berhenti, and that is very tired. Tapi sekali
lagi, gue bisa apa? Gue nggak punya kuasa buat jadi apa yang gue mau selain gue
berusaha di waktu sekarang. Gue selalu dengar temen gue ngomong gini sama yang
lain ketika kumpul.
“Ntar lo mau kemana setelah ini?”
“Lo mau jadi apa ?”
“Oh, gue mau daftar akmil”
“Gue mau ke Jakarta. Soalnya mau di kuliahin sama
tante gue.”
Lo tahu apa yang gue pikirkan? Kenapa mereka enak banget, seakan semuanya semudah itu. Nggak perlu
berusaha buat capek-capek. Masa depan sudah di depan mata. Gue mau iri, bisa dong? Namanya juga manusia,
wajar aja punya rasa iri, termasuk gue.
Lalu gue mikir lagi, kalo mereka pengen jadi itu,
gue mau jadi seperti apa? Oke, untuk sekarang, gue hanya pengen kuliah. Gue
nggak bisa kayak yang lain ketika mereka nggak bisa di negeri, lalu pergi ke
swasta. Gue nggak bisa. Bukan karena
gue memandang swasta gimana gitu, but
ini tentang finansial. Delapan belas tahun bukan waktunya lagi buat gue minta
duit ke ortu semudah minta uang jajan.
Gue heran ketika ada temen gue yang bilang,”takutnya
dipandang rendah aja sama tetangga karena di swasta.” Dia bilang gitu ketika
gue nanya alasan dia takut di swasta. Walaupun akhirnya dia di swasta juga sih.
Tapi bukan itu yang mau gue omongin, bukan tentang swasta atau negeri, but tentang kenapa dia bisa berpikiran
begitu. Oke, semua orang itu berbeda. Termasuk untuk masalah takdir. Gue nggak
menyalahkan dia berpikiran seperti itu. Tetapi
kenapa harus gitu? Hanya karena takut di pandang rendah? Why? Di luar sana
bahkan banyak orang yang nggak seberuntung itu. Mereka harus berusaha sekuat
tenaga buat mencukupi masalah finansial mereka demi pendidikan.
Disini gue mikir dong kalau gue nggak seberuntung
dia. Haha, pikiran gajelas. Gue masih
aja sebodoh ini. Sebenernya apa yang gue salahkan dari nggak seberuntung dia? Apakah itu cukup menentukan takdir gue
nantinya? Dan gue tahu kalo jawabannya tidak.
Lalu gue mikir
nih, setelah apa yang gue inginkan terpenuhi—maksudnya kuliah—gue mau seperti
apa lagi?
Dan gue merasa kalo gue terlalu serakah buat urusan
dunia. Gue terlalu takut tentang apa yang belum terjadi sehingga gue nggak
menikmati apa yang ada dihadapan gue saat ini. Semuanya terasa flat. Every day gue selalu mikir, nanti gue mau ngapain, besok mau
ngapain, tujuan apa yang perlu gue raih selanjutnya. Dan gue cukup tahu, kalo
gue sekarang nggak bersyukur.
Komentar
Posting Komentar