Hola!
Akhirnya gue balik nulis lagi setelah satu bulan penuh hiatus, haha. Bulan Juli
bener-bener bulan tersibuk. Banyak banget hal-hal yang perlu gue urus. Kali ini
topiknya mungkin agak panjang, nggak seperti biasanya. Seperti judulnya,
Secangkir Kopi Di Senja Hari, banyak banget hal-hal yang mau gue tulis because
tentunya selama sebulan ini banyak pelajaran hidup yang gue ambil dari beberapa
temen-temen gue.
1# Don’t judge people too quickly
Sewaktu
gue sekolah, tentu saja ketemu banyak orang. Berbagai macam temen dengan
sifat-sifat mereka yang berbeda. Ada yang pinter, ada yang suka iseng, dll.
Dulu gue selalu berpikiran kalau orang pinter pasti akan selalu sukses. But, tidak untuk sekarang. Ternyata gue
terlalu naif menyimpulkan seperti itu. Gue menganggap mereka yang selalu
bercanda pas waktu sekolah, mereka nggak serius dalam mengejar masa depan.
Awalnya pikiran gue begitu. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini gue banyak mendapatkan
pandangan baru. Temen gue ternyata sukses dengan cara mereka sendiri. Mereka
yang sewaktu sekolah suka bercanda, sekarang malah lebih maju daripada gue
sendiri. Gue seakan masih stuck di titik awal dan mereka sudah maju beberapa
langkah. Mereka banyak membantu gue saat ini.
2#Konsep Berusaha
Beberapa
hari ini gue banyak kenal temen-temen baru dari grup whatsapp. Banyak banget
background mereka yang bisa membuat gue berpikir lebih jauh. Jauh dalam artian
gue harus punya rencana yang bercabang. Jadi kalo rencana satu gagal, gue masih
punya rencana lain yang gue cadangin. Gue kadang heran, mereka orangnya
rajin-rajin. Salah satu temen gue pernah gue tanyain. Btw, dia udah lulus jalur
snmptn (jalur undangan masuk universitas negeri). Tapi dia juga ikut STAN.
Awalnya gue heran, gue tanyalah sama dia kenapa dia lebih milih stan karena dia
kan juga udah lulus snmptn. Dia jawab kalau kita
hidup harus berusaha, apapun yang kita inginkan ya kita harus berusaha, hidup
itu pilihan, kalau mau sesuatu yang kita inginkan ya berusaha.Wow, gue
sangat terkejut. Dan lebih terkejut lagi ketika dia bilang kalo dia daftar
beasiswa luar negeri juga. Gue makin heran dong, secara dia udah di kasih jalan
enak, kenapa harus milih susah. Dan lagi-lagi gue nggak bisa menebak jalan
pikirannya. It’s okay kalau mau milih yang lebih baik. Tapi apa ini nggak
terlalu banyak? Hehe. Dan akhirnya gue ngerti kenapa dia ngelakuin itu. Dia
bilang kalo kita bisa sukses darimana aja. Sewaktu kita masih muda banyakin
usaha, jadi nanti waktu tua tinggal enaknya. Dan itulah yang menjadi
latarbelakang gue buat ambil ujian mandiri dua sekaligus. Gue nggak tau
hasilnya nanti bakalan gimana. Gue nggak peduli. Yang penting gue berusaha,
masalah hasil nanti. Bukannya kita hidup emang hanya di suruh berusaha? Tanpa memikirkan
hasil, karena proses lebih berharga daripada itu. Melalui proses kita belajar
banyak hal. Gue harap orang yang gue ceritain disini, nggak baca tulisan ini
wkwk.
3#Tidak Ada Kesuksesan Tanpa
Kegagalan
Bulan
Juni bener-bener bulan yang nggak gue suka. Gue menerima kata maaf untuk ke
empat kalinya. Gue nggak lolos beasiswa aperti. Gue nggak lolos Jalur PBU
Sarjana UGM. Gue nggak lolos Jalur PBU Sarjana Terapan UGM. Gue cukup terpukul
sih awalnya. Gue mikir kenapa hal yang gue lakukan selalu gagal. Gue cukup down
waktu itu karena kejadian SNMPTN terulang lagi. Gue cukup iri dengan
temen-temen gue yang lolos beasiswa aperti walaupun hanya lolos seleksi
administrasi. Mereka kayak beruntung gitu. Lalu gue inget kalo untuk beasiswa
aperti dan pbu sarjana terapan ugm gue ngambilnya prodi rumpun ips. Sedangkan
gue anak ipa. Agak lucu sih emang. Gue teledornya nggak ketulungan, hehe. Tai
dengan itu gue belajar ada yang namanya kegagalan dalam sebuah proses. Itu
ngebentuk diri gue untuk lebih tangguh di banding sebelumnya. Gue jadi nggak
terlalu berharap dengan apapun yang penting gue berusaha. Udah itu aja.
4#Rencana Tuhan Lebih Baik
Konsep
ini emang perlu di tanamkan dari sekarang. Gue mau cerita. Ada salah satu temen
gue, dia cukup mengubah pandangan gue juga. Waktu itu gue pernah bertanya, apa
rencana terburukmu kalau ini gagal, lalu dia bilang nggak ada rencana terburuk,
semuanya baik. Dari sana gue seperti tertohok, gue udah salah bertanya. Dan
ternyata dia membuktikannya beberapa hari yang lalu ketika dia lolos di sebuah
politeknik negeri di daerahnya. Padahal awalnya dia sudah di tolak sebanyak 5
kali. Dan parahnya lagi, dia belajar cuma sistem sks h-1 ujian. Tapi dia juga
lolos, entah hari-hari sebelumnya dia belajar juga gue nggak tau. Setahu gue
dia belajarnya cuma sistem sks. Dari sini gue percaya kalo omongan dia emang
ada benernya. Tidak ada rencana terburuk atau kemungkinan terburuk. Tuhan
selalu menginginkan hal yang terbaik buat kita.
Komentar
Posting Komentar